Tradisi Fua Pah: Ritus dan Mitos Agraris Masyarakat Dawan di Timor

Oleh: Yoseph Yapi Taum

 

Abstract

Dawanese is the biggest ethnic group living in Timor Island of the east-southeastern province of Indonesia (Nusa Tenggara Timur or NTT). They live in agricultural societies at a subsistence level of production, where life resources are scares due to theempty and infertile land. Face with the scarcity of life resources and infertile land, they develop agricultural rituals and myths traditions. One of the agricultural rituals presented in this paper is Fua Pah, which aims repeatedly at persuading Uis Pah, the ruler of evil not to muddle up and wipe out the plants.  This paper examines the practice of Fua Pah ritual, including mythological motivation, ritual language used, and traces of the local religion. I have characterized the development of agricultural ritual periods, during which Dawanese providing offerings to Uis Pah, along with reciting the ritual poetry that have poetic and metaphoric meaning. The ritual of providing offerings to Uis Pah is known as Fua Pah.

I have noticed convincingly that Dawanese are not “Satanic Worshiper” in spite of the fact that they afford offerings to the devil being. Within oral poetries, they repetitively recite the trinity of the god, namely Uis Nitu, Uis Pah, and the last but the highest Uis Neno. Uis Neno is considered the god of universe, the perfect and Almighty God. Worship to Uis Neno is the core of Dawanese local belief and religious practice. This paper shows that Fua Pah ritual is close related to the ritual language, oral literature, and local religion. There are magical and animism traces on this agricultural ceremony, which seems to stay still from the modern changes. This tradition, however, expressed the identity of Dawanese ethnic.

Key words: agricultural myth and ritual, oral literature, local religion

I. PENDAHULUAN

Wilayah Pulau Timor bagian barat yang merupakan bagian dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dihuni oleh beberapa kelompok etnik, antara lain: Tetun, Bunak, Helong, Kemak dan Dawan, Rote dan Sabu. Suku bangsa dan bahasa Dawan merupakan kelompok suku terbesar yang mendiami daratan Timor Barat itu (Dashbach, 1990: 42). Suku bangsa Dawan mendiami Kabupaten Kupang daratan yang meliputi: kota Kupang, Bolok, Sumlili, Kelapa Lima, Oesapa, Oesao, Nunkurus, Bipoli, Oetata, Pariti, Kukak, Oehendak, Sulamu, Nauwen, Barate, Uwel, Oelbubuk, Kapsali, Soliu dan sekitarnya, Naikliu, Poanbaum, dan Oepoli. Selain itu, orang Dawan juga mendiami seluruh wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU) dan Oekusi (wilayah Timor Leste). Setiap kelompok etnis di NTT umumnya hidup dalam komunitas-komunitas yang hampir-hampir eksklusif sifatnya, dengan masing-masing komunitas memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda (Mubyarto, et.al., 1991:5; Barlow, et.al., 1989: 12).

Dalam bukunya berjudul “The Timor Problem” –seperti dikutip Parera (1994: 44)– Ormeling menyebut orang Dawan ini sebagai “The Timorese Proper” Orang Timor Khusus. Kekhasan orang Dawan ini antara lain terlihat dari bentuk ragawinya yang merupakan percampuran antara unsur Melanesia dan Negrito, sehingga kalau seseorang berada di antara orang Dawan, mereka tidak merasa berada di antara orang Melayu. Karakteristik lain dari suku Dawan adalah demikian banyaknya ritus keagamaan ‘asli’ yang menandai setiap kegiatan hidup mereka, sekalipun mayoritas orang Dawan sudah memeluk agama Kristiani. Karena itulah masyarakat Dawan disebut oleh Valens Boy (1986: 15-23) sebagai “masyarakat ritual”. Salah satu tradisi ritus agraris yang masih hidup dan terus dikembangkan dalam masyarakat Dawan sampai sekarang ini adalah Tradisi Fua Pah, sebuah tradisi pemujaan roh yang dilaksanakan di tempat-tempat tertentu seperti di kebun-kebun, gunung-gunung dan bukit-bukit.

Uis Pah atau Pah Tuaf adalah makhluk halus yang dianggap merugikan manusia, sehingga sebagian masyarakat Dawan menyebutnya sebagai setan. Uis Pah ini diyakini bertempat tinggal di pohon-pohon, batu-batu besar, sungai-sungai, serta tempat-tempat tertentu di sekitar kediaman manusia. Untuk mengambil hati dan menghindari kemarahan Pah Tuaf, masyarakat Dawan seringkali memberikan berbagai korban persembahan dalam upacara adat yang disebut Fua Pah. Upacara Fua Pah merupakan sebuah tradisi pemujaan kepada Uis Pah (Raja Dunia, Sang Penguasa Tanah dan makhluk di atas alam raya yang dianggap menyimpan kekuatan jahat atau kekuatan setan) dengan cara memberikan sesaji berupa hewan korban.

Tradisi pemujaan Fua Pah sampai sekarang masih hidup dan berkembang dalam masyarakat Dawan. Tradisi ini telah menjadi semacam simbol konstitutif (yang membentuk kepercayaan-kepercayaan), simbol kognitif (yang membentuk ilmu pengetahuan), simbol penilaian moral (yang membentuk nilai-nilai moral dan aturan-aturan), dan simbol-simbol ekspresif (pengungkapan perasaan). Sebagai sebuah sistem simbol, tradisi ini memuat berbagai makna yang penting bagi masyarakat pendukungnya. Kajian yang mendalam mengenai latar belakang mitologis munculnya tradisi Fua Pah ini akan memberikan penjelasan tentang inti kepercayaan atau religi lokal masyarakat Dawan.

II. MASALAH POKOK

2.1 Masalah Pokok

Masalah pokok yang ingin diangkat dalam tulisan ini dirumuskan sebagai berikut.

(1)     Masyarakat Dawan, sebagaimana masyarakat agraris lainnya di wilayah Nusantara, memiliki aneka tradisi lisan. Tradisi lisan seringkali berkaitan dengan bahasa-bahasa ritual dan upacara adat formal yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hidup masyarakat Dawan yang umumnya merupakan petani ladang kering, terdapat hubungan yang erat antara ritus dan mitos pertanian dengan keyakinan religius tradisional. Hal ini terutama tampak dalam ritus Fua Pah ini. Sebuah deskripsi yang mendalam tentang pelaksanaan tradisi ini diperlukan untuk mengenal lebih dekat dinamika kebudayaan kelompok etnis ini.

(2)     Ritus-ritus yang dilaksanakan dalam masyarakat tradisional biasanya berkaitan secara emosional dengan mitologi dan sistem kepercayaan masyarakatnya (mengenai Tuhan, roh, alam semesta, bumi, kerja). Khusus menyangkut pemujaan terhadap roh-roh leluhur maupun roh-roh lainnya, perlu dilakukan analisis yang cermat agar dapat dipahami prinsip dan orientasi kepercayaan lokal masyarakat tersebut.

III. PERIHAL RELIGI, MITOS, DAN RITUS

Fua Pah merupakan salah satu ritus yang didasarkan pada kepercayaan atau religi lokal masyarakat Dawan yang memiliki berbagai makna simbolis. Untuk mendapatkan sebuah kerangka referensi yang memadai, yang dapat dijadikan acuan dalam memandang malasah ini, berikut ini akan dikemukakan dua aspek penting, yakni: bentuk-bentuk primitif dari agama, ritual dan mitos sebagai tindakan simbolis.

3.1 Religi Lokal, Animisme, dan Magi

Istilah religi lokal dipergunakan di sini untuk menggantikan istilah “religi asli” yang lebih banyak dikenal dalam dunia akademis selama ini. Istilah religi asli akhir-akhir ini mendapat banyak kritikan, karena istilah antonimnya adalah “religi palsu”. Jika ada ‘yang asli’ maka tentu ada “yang palsu” atau paling kurang “yang tidak asli”. Para kritikus mengajukan alternatif istilah lain yakni “religi lokal” dalam hubungan dan pertentangannya dengan “religi universal” (Taum, 1998).

Kaum evolusionis umumnya memandang animisme sebagai prototipe atau cikal bakal munculnya agama. Animisme, sebagaimana digunakan dan dimengerti E. B. Tylor adalah suatu sistem kepercayaan dimana manusia religius beranggapan bahwa manusia, semua makhluk hidup dan benda mati memiliki jiwa (Dhavamony, 1995: 66). Sebuah bentuk religi awal, yang untuk sebagian besar tampaknya masih dihayati oleh kelompok-kelompok etnis di berbagai belahan dunia, adalah kepercayaan dan praktik berkenaan dengan leluhur. Bentuk pemujaan leluhur ini mengandaikan bahwa leluhur yang telah meninggal, khususnya dalam hubungan kekeluargaan, sebenarnya masih hidup dalam wujud yang efektif dan bisa ikut campur tangan dalam kehidupan manusia (Dhavamony, 1995: 79). Dengan demikian, manusia perlu menenangkan atau mengembangkan kesejahteraan leluhur yang telah meninggal.

Magi atau sihir adalah sebuah fenomena yang sangat dikenal dalam kehidupan masyarakat primitif. Magi dan sihir umumnya dipahami, namun tampaknya sangat sulit dirumuskan dengan tepat. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa magi adalah kepercayaan dan praktik yang diyakini manusia bahwa mereka dapat secara langsung mempengaruhi kekuatan alam dan antarmereka sendiri, entah untuk tujuan baik atau buruk, dengan usaha-usaha mereka sendiri dalam memanipulasi daya-daya yang lebih tinggi (Dhavamony, 1995: 47). Mereka yang mengetahui rahasia-rahasia penting, dapat menguasai daya-daya tak kelihatan yang memerintah dunia, dan karena itu mengontrol daya-daya itu demi kepentingan orang yang menjalankannya.

Frazer dan Malinowski membedakan magi dari agama. Magi bersifat individual, manipulatif, instrumental pseudo-ilmiah, sedangkan agama bersifat sosial, ekspresif, dan simbolis. Agama adalah suatu kepercayaan kepada hakikat tertinggi, dewa, Tuhan dan sebagainya dengan ajaran-ajarannya, kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu (Daeng, 2000: 181). Tuhan, dewa, atau wujud tertinggi itu tidak dapat ditemui melalui ilmu pengetahuan, karena jika dia dapat ditemui melalui ilmu pengetahuan manusia, maka Dia bukan lagi yang Maha Tinggi yang disembah dan dimuliakan sebagai Pencipta semesta alam (Huijbers, 1985: 28).

Tak dapat diragukan bahwa lingkungan budaya tempat tinggal manusia sangat menentukan bentuk, wujud dan tingkatan kepercayaan/agama manusia. Agama merupakan suatu sistem simbol yang dibentuk dan membentuk suatu konsensus bagi makna lambang-lambang dan makna dunia ini, dan yang mengacu kepada kekuatan-kekuatan adikodrati (supranatural), entah kekuatan itu dipersonifikasi atau tidak (Sudarmanto, 1987: 15).

Manusia tradisional pada umumnya melaksanakan kegiatan-kegiatan kultisnya dengan maksud mencapai suatu tujuan tertentu, atau berpamrih. Mereka senantiasa memiliki alasan untuk pembenaran suatu pemujaan, misalnya untuk mencegah kemandulan wanita, menjamin kesuburan ladang, memastikan hujan yang cukup, dan sebagainya (Dhavamony, 1995: 54). Inilah bentuk ibadah magi. Sementara itu, bentuk-bentuk sejati dari agama dapat terjadi tanpa suatu keharusan untuk bersama dengan magi.

3.2 Ritual dan Mitos sebagai Tindakan Simbolis

Dalam masyarakat tradisional, praktik-praktik ritual atau kultis dilaksanakan dengan pemberian persembahan atau sesajian, mulai dari bentuk-bentuk sederhana seperti persembahan buah-buahan pertama yang diletakkan di hutan atau di ladang, sampai kepada bentuk persembahan yang lebih kompleks di tempat-tempat suci atau umum (Dhavamony, 1995: 168).

Susane K. Langer memperlihatkan bahwa ritual merupakan ungkapan yang lebih bersifat logis daripada hanya bersifat psikologis. Ritual memperlihatkan tatanan atas simbol-simbol yang diobjekkan. Simbol-simbol ini mengungkapkan perilaku dan perasaan, serta membentuk disposisi pribadi dari para pemuja mengikuti modelnya masing-masing. Pengobjekkan ini penting untuk kelanjutan dan kebersamaan dalam kelompok keagamaan (Dhavamony, 1995: 174). Hal itulah yang memungkinkan pemujaan yang bersifat kolektif. Penggunaan simbol-simbol itu secara rutin menghasilkan dampak yang membuat simbol-simbol tersebut menjadi biasa sebagaimana diharapkan.

Dalam konteks penelitian ini, perlu dibedakan antara upacara dan ritual (Dhavamony, 1995: 175). Ritual adalah pola-pola pikiran yang dihubungkan dengan gejala yang mempunyai ciri-ciri mistis. Di pihak lain,  upacara berarti setiap organisasi kompleks dari kegiatan manusia yang tidak hanya sekadar bersifat teknis ataupun rekreasional melainkan juga berkaitan dengan penggunaan cara-cara tindakan yang ekspresif dari hubungan sosial.

Ritus dapat dibedakan atas empat macam (Dhavamony, 1995: 175-176). (1) Tindakan magi, yang dikaitkan dengan penggunaan bahan-bahan yang bekerja karena daya-daya mistis; (2) Tindakan religius, kultus para leluhur, juga bekerja dengan cara ini; (3) Ritual konstitutif yang mengungkapkan atau mengubah hubungan sosial dengan merujuk pada pengertian-pengertian mistis, dengan cara ini upacara-upacara kehidupan menjadi khas; dan (4) Ritual faktitif, yang meningkatkan produktivitas atau kekuatan, atau pemurnian dan perlindungan, atau dengan cara lain meningkatkan kesejahteraan materi suatu kelompok. Ritual faktitif berbeda dari ritual konstitutif, karena tujuannya lebih dari sekadar pengungkapan atau perubahan hubungan sosial. Dia tidak saja mewujudkan korban untuk para leluhur dan pelaksanaan magi, namun juga pelaksanaan tindakan yang diwajibkan oleh anggota kelompok dalam konteks peranan sekular mereka. Chaple dan Coon mengusulkan perlunya ditambahkan satu jenis ritual lainnya, yakni (5) Ritual intensifikasi, ritus kelompok yang mengarah kepada pembaharuan dan mengintensifkan kesuburan, ketersediaan buruan dan panenan. Orang yang menginginkan panenan berhasil akan elaksanakan ritual intensifikasi.

 

Dalam masyarakat tradisional, perilaku-perilaku ritual umumnya dapat dijelaskan dengan istilah-istilah mitis. Mitos memberikan pembenaran untuk berbagai upacara. Sekalipun ada kemungkin an bahwa banyak ritual pada masa silam berlaku tanpa mitos-mitos, akan tetapi pada tingkat perilaku manusia dapat diamati dua fenomena: ritus dan mitos, berjalan seiring. H. Gaster dalam “Myth and Story” mengungkapkan, bahwa pada dasarnya mitos bersifat konsubstansial dengan ritus (Dhavamony, 1995: 181-186).

Kloos, Mauss, dan Eliade (de Jong, 1980: 126) mencatat bahwa mitos memang bersifat sakral dan senantiasa memiliki kepentingan yang khusus dalam masyarakat. Sekalipun samar-samar, mitos memiliki petunjuk-petunjuk yang tinggi dan mengandung kecocokan emotif dengan adat suku-suku bangsa, dan dengan demikian secara gradual terumuskan dalam tradisi suku-suku itu. Karakteristik mitos terletak pada kenyataan bahwa mitos mengacu kepada “kejadian-kejadian” di mana manusia menyadari dan menjelaskan esensi mutlak dari keberadaannya dan sekaligus memberikan kesatuan makna bagi masa kini, masa lampau, dan masa yang akan datang.

Itulah sebabnya mitos dianggap merupakan histoire crue (cerita yang diyakini kebenarannya), sehingga mitos memerlukan ritus (Locher, 1956 dalam de Jong, 1980). Cambridge School atau Aliran Cambridge dengan tokoh-tokoh seperti  James G. Frazer, Jane Harrison, dan F.M. Concord. memfokuskan studi  mereka pada mitologi Yunani. Pusat perhatian  aliran Cam­bridge adalah  sifat-sifat ritual dari  mitos. Menurut  mereka, ritus  merupakan pancaran emosi-emosi yang kompleks dari  manusia primitif melalui tindakan-tindakan, gerakan-gerakan, dan  tarian-tarian. Mitos hanya merupakan salah satu  ekspresi  dari emosi manusia yang demikian kompleks itu, melalui kata-kata atau  baha­sa.  Mitos muncul pada saat emosi-emosi  yang diekspresikan dalam  ritus  sudah  tidak lagi mencukupi. Pemahaman terhadap aspek  ritual itu menjadi penting untuk memahami mitos, yang  menjelas­kan asal-usul dan eksistensi ritus.

Oleh J. van Baal (Daeng, 2000: 44), mitos dikatakan sebagai cerita di dalam kerangka sistem suatu religi yang di masa lalu atau kini telah atau sedang berlaku sebagai kebenaran keagamaan. Ilmu pengetahuan tentang mitos atau mitologi adalah suatu cara untuk mengungkapkan, menghadirkan Yang Kudus melalui konsep serta bahasa simbolik Melalui mitologi diperoleh suatu kerangka acuan yang memungkinkan manusia memberi tempat kepada bermacam-macam kesan dan pengalaman yang telah diperolehnya selama hidup. Berkat kerangka acuan yang disediakan mitos, manusia memiliki orientasi dalam kehidupan ini. Dengan demikian, mitos adalah sebuah cerita pemberi pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Dengan ungkapan Dhavamony (1995: 147), maka mitos sesungguhnya merupakan pernyataan atas suatu kebenaran yang lebih tinggi dan lebih penting tentang realitas asali, yang masih dimengerti sebagai pola dan fondasi dari kehidupan primitif.

IV. KONTEKS SOSIAL BUDAYA DAWAN

4.1 Keadaan Alam dan Demografi

Masyarakat suku Dawan tersebar di 26 kecamatan di Pulau Timor, dengan perincian 11 kecamatan berada di Kabupaten Kupang daratan, 9 kecamatan di Kabupaten TTS, dan 6 kecamatan di Kabupaten TTU. Populasi penduduknya sebagai berikut. Kabupaten Kupang daratan 4.449.816 orang; Kabupaten TTS 360.104 orang, dan Kabupaten TTU 174.164 orang. Total penduduk suku Dawan di NTT adalah sebanyak 984.084 orang (penduduk Timor NTT berjumlah 1.143.504 orang), belum termasuk suku Dawan yang menempati wilayah Kabupaten Ambeno di Timor Leste (Lake, 2000: 17-18).

Komposisi tanah, iklim, dan sumber air sangat berpengaruh terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosial masyarakat Dawan. Sebagaimana digambarkan Fox (1990: 3-4), Timor merupakan salah satu pulau yang terletak pada busur luar (Outer Arc) pegunungan Sunda Kecil, wilayahnya terdiri dari pegunungan dan dataran tinggi. Keadaan tanahnya berupa tanah liat berpori yang mengandung kapur permian dan marl. Tanah jenis ini tidak mendukung tumbuhnya vegetasi penutup. Pada musim hujan, keadaan tanah banyak mengandung air, dan akan mengembang bila telah jenuh air hujan. Pada saat musim kemarau, tanah menjadi rengkah dan sangat keras. Komposisi tanah dari batu kapur dan tanah liat ini berpengaruh terhadap adanya sumber air, yang banyak ditemukan di daerah dataran tinggi. Masalah sumber air ini menimbulkan bentuk pemukiman dan usaha pertanian yang berpusat di daerah pegunungan dan pengembangan usaha tani lahan kering yang didominasi jagung dan palawija.

Dataran yang didominasi oleh lapisan tanah liat biasanya kurang sesuai bila digunakan sebagai lahan pertanian. Oleh sebab itu, penduduk memanfaatkan tanah yang terdiri dari campuran batu kapur dan tanah liat, di sekitar dataran tinggi untuk usaha taninya. Secara historis, penduduk mempraktikkan sistem usaha tani perladangan berpindah dengan teknologi tebas dan bakar. Dengan demikian, pemukiman pun sebagian terpusat di lereng-lereng pegunungan, yakni di daerah pedalaman Timor yang kondisi tanahnya amat kering. Itulah sebabnya orang Dawan menamakan dirinya Atoni Pah Meto yang artinya ”orang daerah kering” atau “orang tanah kering” (Mubyarto, 1991: 130).

Hasil studi Sayogyo, dkk (1993: 98) mengungkapkan fenomena “kemiskinan mutlak” (keadaan stok pangan minus) yang pernah dialami masyarakat Dawan (khususnya di Kabupaten TTS) yang disebabkan terutama oleh minimnya potensi sumber daya alam. Menghadapi keadaan alam demikian, masyarakat Dawan yang mayoritas penduduknya bermata-pencaharian tani peladang dituntut untuk mencari dan mengolah lahan pertanian sebagai cara survival. Menghadapi alam yang tidak terlalu bersahabat itu mereka harus memiliki strategi dan siasat tertentu. Untuk menjamin kesuburan tanah, mendatangkan hujan, menjauhkan hama, dan menghasilkan panen berlimpah, maka masyarakat Dawan melaksanakan berbagai macam ritus dan seremoni adat untuk meminta pertolongan dari kekuatan-kekuatan supranatural maupun preternatural. Salah satunya adalah upacara Fua Pah yakni ritus persembahan hewan korban kepada penguasa bumi.

Dalam praktik pengelolaan lahan pertanian, masyarakat Dawan cenderung melakukannya secara tradisional. Pola pertanian ladang berpindah dengan pola tebas-bakar (pola pertanian ekstensif) berakibat menguruskan potensi sumber daya alam. Faktor lain yang menghambat kemajuan masyarakat ini adalah pola budaya adaptif terhadap lingkungan tanpa upaya untuk lebih menguasai lingkungan, selain pola perilaku sosial yang cenderung konsumtif dan boros untuk berbagai kegiatan adat dan ritual (Sayogyo, 1993: 98).

4.2 Sejarah Asal-usul Masyarakat Dawan

Suku bangsa Dawan ini seringkali disebut dengan nama yang berbeda-beda. Istilah “Dawan” sebenarnya merupakan sebuah istilah yang diberikan oleh orang Belu di sebelah timur (Parera, 1994: 44, Lake, 1999: 17). Menurut Parera, istilah Dawan ini kemungkinan besar ada kaitannya dengan Liurai Sonbai yang pertama, yang bernama Nai Laban. Jadi orang Dawan adalah rakyat dari Nai Laban. Akan tetapi, seorang pakar linguistik yang berasal dari kelompok masyarakat penutur asli Dawan, Drs. Anton Berkanis, M.Hum mengungkapkan bahwa istilah Dawan sesungguhnya berasal dari kata bahasa Sansekerta “rawan” yang artinya “barat”.

Para pedagang dan kaum pendatang dari luar menyebut orang Dawan ini dengan nama “Atoni”. Istilah ini sebenarnya kurang disukai orang Dawan (Parera, 1994: 44) karena didasarkan pada kebiasaan memanggil orang lain dengan ucapan “Hoi Atoni” yang berarti “Hai orang/teman”. Sekalipun demikian, penyebutan suku Atoni ini diterima pula oleh sebagian penduduknya. Dikatakan bahwa orang Dawan menyebut diri mereka orang Atoni Meto, artinya orang yang berdiam di daratan atau di tempat kering (Atoni = orang, Meto = darat atau kering). Ada pula yang menyebut mereka adalah “orang gunung”, sebab menurut sejarah, orang Atoni merupakan penduduk pegunungan yang terpencar (Mubyarto, 1991: 131-133). Terpencarnya orang Dawan ini diperkirakan belum lama terjadi, terlihat dari bukti bahwa variasi dialek bahasa Dawan sangat sedikit.

Dalam tulisan ini digunakan istilah Dawan untuk menyebut suku bangsa dan bahasa Dawan. Alasannya sangatlah praktis. Secara normatif, penyebutan suku bangsa dan kebudayaan suatu kelompok masyarakat selalu dikaitkan dengan bahasa yang digunakannya. Bukankah “bahasa menunjukkan bangsa?” Selain itu penyebutan Bahasa Dawan sudah cukup luas diterima oleh berbagai kalangan.

Parera (1994: 47) menyebutkan bahwa pada umunya orang-orang Dawan mempunyai peradaban yang lebih rendah sehingga tidak bisa menyaingi para pendatang yang memiliki kebudayaan yang sudah lebih maju. Kenyataan ini dibuktikan dengan adanya “pengungsian politik” yang terjadi sekitar abad ke-15, ketika kelompok pendatang yakni orang Belu memenuhi daerah sekitar Gunung Mutis.

Kepastian tentang sejarah asal-usul terbentuknya suku Dawan tidak diketahui dengan pasti (lihat Mubyarto, 1991: 134). Dari berbagai tradisi lisan, diperoleh keterangan bahwa kebanyakan penduduk di daerah NTT mengaku nenek moyang mereka berasal dari seberang lautan. Di Pulau Timor, Van Wouden (1985: 44) menyebutkan tentang luasnya penyebaran mitos tentang Sina Mutin Malakkan. Dikisahkan bahwa beberapa ratus tahun yang lalu, empat suku (hutun rai hat) meninggalkan negerinya Sina Mutin Malakkan menuju ke timur. Di Larantuka-Bauboin yakni suatu tempat di Flores Timur, sebagian dari mereka tinggal. Mereka inilah yang menurunkan raja dan penduduk Pantai Larantuka (Taum, 1997: 4-6). Sebagian lainnya meneruskan perjalanannya ke Pulau Timor dan menetap serta membentuk empat kerajaan kecil, yakni: (1) Ai Hale atau Wehali; (2) Sanaleo di gunung Sanaleo; (3) Ai Meku atau Waiwiku; dan (3) Katimu atau Haitimu. Kerajaan-kerajaan ini taat kepada pemimpinnya di Wehali.

Konon, wilayah Dawan kemudian dipimpin oleh seorang raja yang disebut Liurai Sonbai. Liurai Sonbai merupakan adik dari Maromak Oan, raja Wewiku Wehale yang berasal dari Sina Mutin Malakkan. Apakah orang Dawan juga berasal dari Sina Mutin Malakkan (Jazirah Malaka), belum dapat dipastikan. Yang pasti, mitos Sina Mutin Malakkan ini terutama berkembang dalam masyarakat Belu di sebelah timur.

4.3 Agama dan Kepercayaan

Data yang dikemukakan dalam NTT dalam Angka 1997 menunjukkan bahwa masyarakat Dawan (khususnya di tiga kabupaten di NTT yakni Kupang, TTS, dan TTU mayoritas beragama Kristen (Katolik maupun Protestan) sebanyak 94,65%. Dari total penduduk sebanyak 1.115.533 orang, penduduk yang beragama Protestan sebanyak 751.985 orang (67,41%) dan Katolik sebanyak 303.875 orang (27,24%). Penduduk yang beragama Protestan sangat dominan di dua Kabupaten yakni Kupang (435.437 orang, bandingkan dengan Katolik yang hanya 62.118 orang), dan Kabupaten TTS (Protestan 305.305 orang, Katolik 43.959 orang). Sedangkan Kabupaten TTU lebih didominasi orang Katolik (Katolik 197.728 orang dan Protestan 11.243 orang).

Sekalipun mayoritas masyarakat Dawan sudah memeluk agama Kristiani sebagai sebuah agama monotheis modern dan universal, kepercayaan lokalnya masih dihayati dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-harinya. Hal itu sungguh beralasan karena sebelum kedatangan dan kehadiran agama Kristen, masyarakat Dawan sudah memiliki kepercayaan dan pemujaan terhadap wujud tertinggi dan leluhurnya.

Masyarakat Dawan memuja Uis Neno yang berarti Tuhan Langit. Uis Neno ini digambarkan sebagai apinat-aklabat atau “yang bernyala dan membara”, dan afinit-amnanut yang artinya “yang tertinggi dan mengatasi segala sesuatu”. Uis Neno juga dipercaya sebagai pemberi manikin-Oetene atau “kesejukan dan kedinginan”. Dialah pemberi tetus ma nit “keadilan dan kebenaran”. Di samping itu dia dianggap sebagai dewa kesuburan yang mengatur musim, memberi padi dan jagung serta mengatur alam. Uis Neno berperan pula sebagai abaot-afatist artinya “yang memberi makan dan mengasuh kita”, amo’et-apaket artinya “yang membuat dan yang mengukir”. Akan tetapi Uis Neno juga dipercaya dapat mendatangkan kemarau panjang yang mengakibatkan tanaman mati dan dapat juga mendatangkan hama penyakit atas tanaman dan ternak serta atas diri manusia. Ilustrasi ini memperlihatkan bahwa Uis Neno merupakan sang pencipta, sang penyelenggara, dan maha kuasa Uis Neno dipercaya memiliki dua wujud, yakni Uis Neno Mnanu artinya “Tuhan Yang Tinggi” dan Uis Neno Pala atau “Tuhan Yang Dekat atau Pendek”. Akan tetapi, keduanya masih diklasifikasikan sebagai Tuhan Langit (Valens Boy dalam Mubyarto, 1991: 152-153).

Selain Tuhan Langit, masyarakat Dawan juga mengakui adanya Tuhan Bumi atau Penguasa Alam Semesta. Tuhan Bumi ini disebut Pah Tuaf atau Uis Pah (Pah artinya bumi, dunia, atau alam). Uis Neno dan Uis Pah diakui membentuk kekuatan ilahi, namun superioritas Uis Neno tetap nyata. Keduanya memang berbeda, dan mempunyai eksistensinya masing-masing akan tetapi satu sama lain tidak dapat dipisahkan.Uis Pah dianggap sebagai pembawa ketakberuntungan dan malapetaka bagi manusia. Oleh karena itu manusia harus berusaha mengambil hati mereka dengan upacara-upacara ritual. Bersama Pah Nitu (roh atau dunia orang mati) Uis Pah diyakini meraja di dunia dan tinggal di hutan, batu-batu karang, mata air, pohon-pohon besar dan gunung-gunung.

Masyarakat Dawan percaya pada Pah Nitu yaitu arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia. Arwah-arwah ini memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, karena mereka seringkali dijadikan penghubung atau perantara antara manusia dengan Uis Neno. Mereka percaya juga pada Uis Leu yakni raja yang kudus, Tuhan yang haram, yang biasanya dikaitkan dengan Uis Neno.

4.4 Sastra dan Kebudayaan

Masyarakat Dawan sangat terkenal dengan budaya gotong royongnya. Mereka mengenal tiga jenis kerja gotong royong, yakni: Hone, Meopbua, dan Okomama. Ketiga jenis adat gotong royong ini bersumber dari landasan filsafat hidup orang Dawan yakni ‘Tmeup Tabua Nekaf Mese Ansaof Mese” (lihat Neonbasu dan Anselmus Leu, 1992: 139-147). Tmeup Tabua Nekaf Mese Ansaof Mese berarti ‘bekerja sama sehati-sepikiran’. Ungkapan ini dalam praktik merupakan motif dasar yang mengilhami setiap bentuk kerjasama dalam masyarakat Dawan. Konsep ‘bekerjasama sehati-sepikiran’ ini bertujuan mafiti/manpenen, yakni saling meringankan beban. Penekanan kerjasama ini adalah nilai sosial kemanusiaan dan bukan nilai sosial ekonomi (upah).

Dalam bidang sastra, penelitian tentang sastra lisan Dawan (Tarno dkk, 1993) berhasil mendeskripsikan empat jenis Sastra Lisan Dawan yakni Bonet, Heta, Tonis dan Nu’u. Uraian singkatnya sebagai berikut.

(1)     Bonet. Bonet adalah jenis tuturan berirama atau puisi lisan yang seringkali dilagukan. Tuturan membentuk satuan-satuan berupa penggalan yang ditandai dengan jeda. Satuan-satuan ini membentuk bait atau kuplet. Jumlah larik tidak selalu sama. Ciri lainnya adalah pengulangan bentuk. Berdasarkan isi dan fungsinya, Bonet dibedakan atas 4 jenis, yakni: Boennitu (puji-pujian kepada arwah), Boen Ba’e (Puji-pujian dalam suasana ceria: kelahiran olen, menimang anak ko’an, penyambutan tamu futmanu-safemanu), dan nyanyian kerja (Boenmepu).

(2)     Heta. Heta juga merupakan sejenis puisi lisan Dawan, yang ditinjau dari segi struktur mirip dengan bonet. Jika bonet termasuk puisi ritual formal yang dinyanyikan dalam upacara adat, maka heta merupakan puisi lisan yang dituturkan dalam suasana santai tanpa dilagukan. Heta terdiri dari teka-teki (Tekab) dan peribahasa.

(3)     Tonis. Tonis merupakan ragam bahasa adat, sehingga penuturan tonis selalu dalam rangka adat. Tonis merupakan jenis sastra lisan Dawan yang diungkapkan dalam bentuk bahasa berirama (puisi) yang berbau prosa teratur (prosa lirik). Tonis terjalin dalam bentuk pasangan kata dalam larik dan bait-bait paralel yang berulang secara teratur. Seperti: Auni mnanu//kue mnanu “tombak panjang//kuku panjang” yang mengiaskan pejuang. Berdasarkan isinya, tonis dapat dibedakan atas dua jenis, yakni tonis pah (puisi yang berkaitan dengan leluhur) dan tonis lasi (puisi yang membicarakan masalah-masalah sosial).

(4)     Nu’u. Nu’u merupakan jenis prosa rakyat yang dituturkan dalam bahasa sehari-hari. Dalam masyarakat Dawan terdapat dua jenis Nu’u, yakni Nu’u yang hanya boleh dituturkan oleh tonis karena berkaitan dengan kebenaran hukum adat dan kesejarahannya, dan nu’u biasa, yang dituturkan oleh siapa saja, yang biasanya berupa cerita-cerita rakyat.

Parera (1994: 24-25) menambahkan, bahwa dalam masyarakat Dawan dikenal pula bentuk sastra lisan lainnya yakni “nel” yang berupa pantun dan ta’nu’an yakni cerita-cerita dongeng yang biasanya ditujukan untuk anak-anak. Ada tiga jenis nel atau pantun itu, yakni: (a) nel-masi’u (pantun untuk sindir-menyindir), (b) nel ta’tuna kanan (pantun untuk mengungkap asal-usul suatu marga), dan (c) nel ta’tuna pah (yakni pantun untuk mengagungkan kerajaan).Parera juga menyebutkan bahwa syair adat Dawan disebut “takanab” dan penyairnya disebut “mafefa”. Kadang-kadang syair-syair lisan itu disebut juga dengan istilah “lasitonis” dan penyairnya disebut “apiot lasi.” Dalam tulisan ini, akan digunakan istilah “tonis” untuk puisi-puisi atau syair-syair adat dan “lasitonis” untuk penyair lisan (lasi tonis)nya.

Selain ritus, mitos, dan sastra lisan, masyarakat Dawan juga mengenal berbagai nyanyian dan tarian tradisional, ukiran, anyaman, dan tenun ikat yang sangat menarik, yang tidak pada tempatnya diungkapkan semuanya di sini.

Tradisi lisan adalah cerita dan non cerita yang dituturkan secara langsung oleh nenek moyang suku Dayak secara turun temurun. Tradisi lisan ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat Dayak, sebab dari tradisi lisan inilah dapat diketahui pemikiran, sikap, dan perilaku masyarakat Dayak. Selain itu dalam tradisi lisan ini mengandung filsafat, etika, moral, estetika, sejarah, seperangkat aturan adat, ajaran-ajaran agama asli Dayak, ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, serta hiburan rakyat. Bagi suku Dayak tradisi lisan menghubungkan generasi masa lampau, sekarang, dan masa yang akan datang.

Kelompok Cerita:
1. Singara
Singara adalah cerita rakyat biasa yang berhubungan dengan situasi kehidupan di masyarakat. Cerita itu berupa cerita jenaka, cerita pelipulara, cerita binatang, dan cerita kasih sayang. Cerita jenaka misalnya cerita tentang Pak Ali-ali yang sangat kocak membuat tawa bagi yang mendengarkannya.Berikut ini contoh cerita Pa Ali-ali sedang mencari ikan sungai dengan bubu.

“Dimusim hujan ketika air sedang pasang, Pak ali-ali yang pemalas disuruh istrinya mencari ikan dengan menggunakan bubu. Awalnya Dia merasa enggan, tapi karena istrinya sering merengek-rengek akhirnya pak Ali-ali mengikuti keinginan istrinya. Malam ia mulai memasang bubu. Pagi harinya ketika diangkat, tak satupun ikan yang ia peroleh. Ia pun membawa bubunya kerumah dan melaporkannya ke pada istrinya. Istrinya marah-marah dan berkata : “ Dasar bodoooh kao Pak ali-ali, seko’ saluakng buta’ pun kao na’ namu. Dah…..kao gago’ agi ikatn ka’ sunge” Sambil menghukum Pak Ali-ali tidak diberi makan. Terpukul oleh kata-kata istrinya “sekok saluakng buta’ pun na’ namu” akhirnya ia pun pasang bubu lagi. Kali ini ia dapat ikan penuh satu bubu. Tapi begitu dicek satu persatu tidak satu seluangpun yang buta. Akhirnya semua ikan seluang dan ikan yang lain dilepaskannya lagi ke sungai. Iapun pulang dan melaporkan bahwa ikan yang didapatnya sudah dibuang ke’ sungai semua, karena tidak ada yang buta”.

2. Gesah
Gesah adalah cerita yang berhubungan dengan kepercayaan atau agama lama suku Dayak, sosok kepahlawanan, asal usul benda/ kehidupan manusia. Contoh gesah misalnya tentang Ne’ Baruakng Kulup dengan asal usul padi turun ke dunia. Gesah Ria Sinir yang terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Gesah Pak Kasih yang berjuang merebut kemerdekaan.

3. Osolatn.
Osolath adalah kisah asal usul keturunan suatu suku, atau keluarga. Contoh Osolatn dapat dilihat pada asal usul kehidupan manusia di bumi menurut kepercayaan Dayak Kanayatn.

“Pada mulanya, pada perkawinan kosmis di Pusat Ai’ Pauh Janggi kemudian tercipta Kulikng Langit dua Putar Tanah (Kubah langit dan Kubah bumi), yaitu Sino Nyandong dan Sino Nyoba memperanakan Si Nyati Anak Balo Bulatn Tapancar Anak Mataari (Nyati Putri Bulan dan Putra Matahari). Memperanakan Iro-iro man Angin-angin ( Kacau Balau dan Badai), memperanakan Uang-uang man Gantong Tali (udara mengawang dan Embun menggantung), memperanakan Tukang Nange man Malaekat (Pandai Besi dan Bidadari), memperanakan Sumarakng Ai’ man Sumarakng Sunge (segala air dan segala sungai), memperanakan Tunggur Batukng man Mara Puhutn (Bambu dan Pepohonan) memperanakan Antuyut man Marujut (Akar-akaran dan Umbi-umbian) memperanakan Popo’ man Rusuk (Kesejukan Lumpur dan Tulang Iga).

Kesejukan Lumpur adalah perempuan dan tulang iga adalah laki-laki. Selanjutnya Popo’ man Rusuk Memperanakan Anteber dan Guleber. Anteber dan Guleber inilah yang dipercaya sebagai nenek moyang Dayak Kanayatn. Setelah menjadi manusia, selanjutnya, Anterber dan Guleber melahirkan anak-anaknya dan kemudian dalam waktu cukup lama melahirkan anak cucu, sehingga dengan demikian, semakin banyaklah anak manusia di bumi”.

4. Batimang
Batimang adalah kegiatan yang bersifat hiburan atau pelipur hati atau bujukan oleh para orang tua untuk anak-anak. Batimang dilakukan pada saat senggang atau saat mau tidur. Batimang dapat dilakukan pada ungkapan pepatah, pantun atau lagu. Berikut ini contoh pepatah:
1. Abeh gi ka’ bahu, lajak udah bajalatn. Maksudnya Ia masih merencanakan sesuatu tapi rencananya sudah disebarluaskan.
2. Jantek siku siku tulakng takar. Maksudnya Perbuatan yang serba salah.

Batimang dalam bentuk lagu dapat dilihat dari syair batimang padi berikut ini:

Talinsikng papatn inge, tangilikng ka’ surambi
Nek Gasikng turutn pene, bakulilikng tangah sami’
Ansuit dalapm langko, nyingkubakng tongkoktn tanga’
Ne’ Ulit-ulit nyaru’ leko, Nek Baruakng maba pangka’
Nyingkubakng tongkotn tanga’, bakoro nangah sare
Nek Baruakng maba pangka’, baleko tangah pante
Bakoro nangah sare, tarad pulo bantatn
Baleko tangah pante, pangka’ tangah laman
Tarada pulo bantatn, barapi oncok limo
Pangka’ tangah laman, padi turutn ka talino
Barapi oncok limo, angkala’ pamumpunan
Padi turutn ka talino, pangka’ bakaturunan
Angkala’ pamumpunan, bajantok ka’ talidi
Pangka’ ba katurunan, Nek Tingkakok batimang padi
Bajantok ka talidi, satangkakng tama bubu
Nek Tingkakok batimang padi, padi atakng lalu baribu
Satangkakng tama’ bubu, baui raba pango’
Padi atakng lalu baribu, ia tama dalapm dango
Baui raba pongo, satangkakng batakng munukng
Padi tama’ dalapm dango, lalu atakng da’ Nek Untukng
Satangkakng batakng munukng, kandis bunga lada
Atakng da Nek Untukng, minta tulis ka Jubata
Kandis bunga lada, mampak kayunya raya
Minta’ tulis ka jubata, ia baranak menjadi raya
Karake’ ada sakojek, bajuntukng pucuk sangkuakng
Minta tele’ ka Nek Sijaek, minta unsur ka Nek Baruakng

5. Pantutn
Pantutn atau pantun merupakan cerita yang berisi nasihat, peringatan, dan kasih sayang. Pantun terdiri dari empat baris bersajak ab-ab, dua baris sampiran dan dua baris isi. Sampirannya menarik karena kata-katanya berasal dari lingkungan kehidupan. Pantun banyak dipraktekkan dalam kesenian jonggan, berkomunikasi di mototn dan menoreh getah. Tokoh pantun yang terkenal media elektronik yang berasal dari Desa Rees adalah Pak Namben dijuluki si raja Pantun. Berikut ini salah satu pantun hasil karyanya:

Tuhan dan Manusia
Beli gulamerah susah bawa galah
Ke sebuah lahan nabur palawija
Lagi muda gagah, Sudah tua lemah
Begitulah Tuhan mengatur manusia

Mahasiswa Tirakatan boleh jajan
Bahan gula sediakan niranya
Manusia diciptakan oleh Tuhan
Jangan lupa muliakan namaNya

Rupanya teman ngajak bergegas
Tunduk sembunyi rasa ditekan
Kuasa Tuhan tidak terbatas
Mahluk dan bumi Ia ciptakan

Agar menarik dan merdu didengar, pantun juga dapat dinyanyikan saat melakukan pesta adat , atau upacara syukuran lainnya. Biasanya pantun dinyanyikan pada jenis kesenian jonggan yaitu musik tradisional Dayak Kanayatn menggunakan gong, dau, duma, dan suling. Lagu-lagu yang sering dinyanyikan adalah Kayu ara, Kambang bapanggel, dan ma’inang serta banyak lagi lagu yang lain. Lagu-lagu itu merupakan lagu legendaris Dayak Kanayatn yang sangat digemari oleh semua kalangan baik tua maupun muda. Saat ini lagu-lagu itu dimodifikasi kedalam musik moderen.

6. Sungkaatn
Cerita dalam bentuk perumpamaan/pepatah disebut dengan sungkaatn. Perumpamaan atau pepatah yang dikaitkan dengan lingkungan sekitar tentang peringatan,penjelasan atau nasehat. Biasanya kata – kata yang digunakan adalah bahasa formal adat. Berikut ini adalah contoh sungkaatn.
1. Saenek-enek udas, paling ina’ tupe jejek ka’ dalapmnya. Maksudnya pada sebuah komunitas paling tidak satu orang menjadi pemimpinnya.
2. Suka mani’ ka’ Daya maksudnya sesorang yang selalu mengaku dirinya lebih hebat dari yang lain. Kebalikan dari pepatah ini adalah Suka mani ka’ ilir yang maknanya seseorang selalu merendahkan dirinya meskipun ia sesorang pemimpin.

7. Salong

Salong adalah cerita dalam bentuk sindiran atau ejekan terhadap suatu kebiasaan, atau perilaku yang kurang baik di masyarakat. Salong berusaha memperbaiki Sifat,perilaku, dan perbuatan yang tidak sesuai dengan adat atau kebiasaan yang berlaku umum. Contoh salong adalah sebagai berikut :
1). Sayang istri, dipukul
Sayang ke anak di tinggalkan ; maksudnya bekerja keraslah mencari nafkah untuk anak istri.
2). Ujatna’ abut koa ; maksudnya salong untuk anak yang menangis.
3). Angus padakng dinunu ; maksudnya kebohongan yang disampaikan dipercaya pendengar.
4). Katungo ka’ jauh katele’atn, Babotn ka’ samaknya nana’ ia tele’’ : Maksudnya kesalahan orang orang dibesar-besarkan, kesalahan sendiri ditutupi.

Kelompok Non Cerita

1. Sampore’
Sampore dilakukan dalam kehidupan sesorang yang berhubungan dengan rehablitasi hubungan yang pernah cacat. Sampore dilakukan dalam acara lenggang, liatn, dendo, bapipis, batampukng tawar, dan babuis (karena badi atau jukat)/

2. Lala’

Lala’ adalah pantangan bagi masyarakat Dayak Kanayatn dalam melakukan sesuatu baik itu pantang makan, melakukan sesuatu, dan mengucapkan kata – kata. Masa pantang bisa tiga hari, tujuh hari, 44 hari, dan seumur hidup diatur dalam tradisi masyarakat setempat. Tujuan lala’ adalah agar setiap anggota masyarakat terhindar dari bahaya, kekuatan meningkat, atau terkabulnya niat dalam pekerjaan.

3. Tanung.

Tanung merupakan tradisi masyarakat dalam menentukan jenis kegiatan misalnya membangun rumah, menetapkan mototn, mancari jalan terbaik dalam situasi gawat/perang. Upacara batanung akan memberikam suatu keyakinan tentang jenis kegiatan yang dapat dilakukan kemudian. Jenis tanung adalah tang ai’, tanung tali, tanung karake’, tanung sarakng pinang, dan tanung dapa’ layakng.

4. Baremah
Baremah adalah permohonan penutup atau ucapan syukur atas hasil pekerjaan, seperti pada baroah, babalak, muang rasi, bapipis, basingangi (niat). Kegiatan ini lebih bersifat pribadi atau bagian upacara keluarga.

5. Renyah

Renyah adalah bahasa dayak kanayatn dalam menyebutkan lagu atau nyanyian. Isi nyanyian berupa pantun yang sangat digemari oleh seluruh lapisan masyarakat dalam berkasih sayang, saling sindir, atau oleh orang tua menyampaikan pesan kepada anaknya. Renyah biasanya dilakukan pada saat ke mototn atau ke hutan.

6. Bacece’
Bacece adalah berunding di antara para tokoh, sanak keluarga, dan kerabat sekampung mengenai budi, hutang, atau hal lainnya dari orang tua/kepala keluarga/tokoh adat/tokoh masyarakat yang sudah meninggal dunia. Perundingan yang dipimpin oleh pemuka adat biasanya menghasilkan kesepakatan mengenai kejelasan dan tindakan yang dapat diambil bilamana perlu. Tujuannya agar arwah orang yang meninggal dapat lebih baik dan aman di surga, dan keluarga yang ditinggalkan dapat lebih tenang dan rukun.

7. Pangka’

Upacara adat pangka adalah upacara adat untuk memperingati Ne’ Baruakng Kulup merunkan padi ke dunia.Upacara ini biasanya dilakukan sebelum patahunan (masa ba mototn). Sebelum Upacara adat yang dipimpin oleh temenggung ini dilaksanakan , terlebih dahulu melakukan sembahyang bersama di panyugu setelah itu pangka’ gasing dimulai.

8. Mura’atn
Muraa’atn adalah berdoa agar sesorang tidak ditimpa mala petaka. Tradisi ini sifatnya pribadi perorangan.

9. Liatn
Liatn adalah upacara adat Dayak Kanayatn dalam bentuk magis dan sakral. Ditampailkan dalam bentuk tarian, doa, dan prosa berirama. Tujuan liatn adalah untuk pengobatan, membayar niat, dan lain-lain. Liatn dipimpin langsung oleh seorang dukun ahli liatn dan dibantu oleh seorang panyampakng serta beberapa panyangahatn. Jenis liatn berdasarkan pemampilannya adalah liatn daniang, liatn nyande, liatn bantal, dan liatn kanayatn. Perbedaan jenis liatn itu didasarkan pada irama serta kata-kata yang digunakan. Tiap jenis mempunyai tokoh tersendiri, misalnya liatan danian adengan tokoh Ne’ Sinede, dan Ne’ Lampede. Sedangkan pembagian jenis lian menurut tujuannya adalah liatn batama bohol, liatn ngaladak buntikng, liatn badingin, dan liatn ngangkat paridup. Misalnya liatn batama bohol bertujuan untuk memberi anak, sedaangkan liatn ngangkat paridup untuk memperbaiki patahunan yang gagal. Kegiatan upacara dalam liatn antara lain adalah nyangahatn dalam rumah, ngantar roba, ka’ ayutn, baramauan ngamok jalu, ka’ bawakng, bajampi, ka’ Jubata masaka, nyangahatn ngago’ sumangat, notor (memberi makan iblis jahat), ka’ dango bonto, ngalainse, ngungke, ka’ paramainan, dan baripakng. Waktu pelaksanaan antara lain sehari semalam, tiga hari tiga malam.Nilai seni tari dan lagu dalam liatn ini sangat menonjol yang diiringi alat-alat musik agukng, dau, dan tuma’ (gendang)

10. Mulo
Mulo adalah adat mengucilkan seseorang yang melakukan kesalahan berat kepada masyarakat adat Dayak.

11. Gawe
Gawe adalah upacara ucapan syukur. Gawe juga dilakukan untuk memulai kehidupan baru. Contoh gawe adalah gawe padi, gawe balak, dan gawe panganten.

12. Totokng

Upacara adat besar penerimaan kepala manusia hasil bakayo tempo dulu. Karena dalam pelaksanaannya menyangkut kehidupan dan hubungannya dengan lingkungan sehingga upacara nyangahatn dilakukan di setiap tempat kegiatan orang Dayak, misalnya di Panyugu, Panamukng (bukit/hutan rimba), Pasiyangan (tempat keramat asal usul nenek moyang beserta sejarahnya), sunge, tanga’ rumah, di atas pante, dan di dalam rumah. Semua tempat harus didatangi sebab kalau tidak kampung akan terkena bencana atau jukat. Totokng dipimpin oleh imam.

Saat ini upacara totokng jarang dilakukan, selain biayanya besar, upacaranya juga harus sesuai dari asal usul keluarga pengayau dan dari keturunan cerdik pandai adat. Selain itu ada kekawatiran terkena jukat.Sesuai denga tujuannya, totokng dibuat untuk penamaan pantak (topeng) guna menemukan asal usul suatu keturunan. Ada tiga tokoh Dayak yang dulu pembawa totokng yaitu: Bunsu, maniamas, dan Ure Nyabukng.

13. Nyangahatn
Bagian upacara dalam bentuk doa dalam adat dayak adalah nyangahatn. Upacara adat ini banyak digunakan dalam peristiwa adat seperti liatn, lala’remah, gawe, sampore’, dan mato’. Nyangahatn juga dilakukan saat bercerita sejarah kejadian asal usul. Tujuannya mengucap syukur mohon bimbingan dan perlindungan atau pemberitahuan kepada Jubata, Ne’ Panampa, Ne’ Daniang, terhadap kegiatan dalam bekerja. Nyangahatn dilengkapi dengan palantar (persembahan).

14. Dendo atau Lenggang
Bentuk upacara ini bukan berasl dari asli Kanayatn. Upacara ini dilakukan pada saat membayar niat. Kegiatan ini mirip dengan liatn tetapi dengan variasi dari luar yaitu melayu dan cina.

 

Sumber Tulisan : yohanessupriyadi.blogspot.com