Nekara merupakan hasil kebudayaan zaman Perundagian. Nekara adalah semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengah dan sisi atasnya tertutup, jadi dapatlah kita kira-kira seperti dandang yang ditelungkupkan. Secara proporsional dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu bagian atas, tengah dan bawah.
Nekara adalah semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengah dan sisi atasnya tertutup, jadi dapatlah kita kira-kira seperti dandang yang ditelungkupkan. Di antara nekara-nekara yang ditemukan di Indonesia hanya beberapa saja yang utuh, selainnya ditemukan dalam keadaan tidak utuh atau pecahan saja.
Nekara merupakan hasil kebudayaan zaman Perundagian. Perundagian berasal dari istilah undagi dari bahasa Bali. Undagi ialah seorang atau kelompok atau golongan masyarakat yang memunyai kepandaian atau keterampilan jenis usaha tertentu, misalnya pembuatan gerabah, perhiasan kayu, sampan, dan batu.
Nama nekara terdapat dalam berbagai bahasa mulai, dari kettledrum sebagai nama yang sering digunakan. Nama lokal di Indonesia, seperti bulan (sasih) untuk menyebut nekara dari Pejeng (Bali), tifa guntur (Maluku), makalamau (Sangeang), sarisatangi, bo so napi, untuk menyebut nekara tipe Heger I. Untuk menyebut nekara tipe Pejeng di Pulau Alor digunakan nama moko, di Pulau Pantar disebut kuang, dan di Kabupaten Flores Timur dinamakan wulu. Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, nekara adalah gendang perunggu berbentuk seperti dandang, berpinggang pada bagian tengah dengan selaput suara berupa logam atau perunggu.
Nekara secara proporsional dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu bagian atas, tengah dan bawah. Pertama, bagian atas dibagi menjadi bidang pukul dan bahu. Istilah bidang-pukul diberikan pada bagian atas yang berarti tempat atau bagian yang dipukul. Bagian bahu adalah bagian yang terletak tepat di bawah bagian bagian pukul. Pegangan atau telinga terdapat antara bagian bahu dan tengah. Kedua, bagian tengah atau sering juga disebut bagian pinggang. Ketiga, bagian bawah atau juga sering disebut kaki adalah bagian bagian yang paling bawah berongga tidak tertutup.
Pada nekara terdapat hiasan-hiasan yang pada umumnya terbagi dalam kelompok-kelompok besar, kemudian terbagi lagi ke dalam kelompok kecil. Ada pun pola hiasan yang ada dalam nekara antara lain adalah pola-pola geometris seperti: garis sejajar horizontal; lingkaran tangent, berupa lingkaran kecil dengan garis miring untuk menyambungkan dengan lingkaran berikutnya; meander berupa garis-garis miring yang terkadang distilir sebegitu rupa sehingga sulit dikenali bentuk aslinya.
Secara garis besar nekara digolongkan kedala dua tipe yaitu tipe Pejeng dan tipe Heger. Nekara tipe Pejeng ditemukan di Pejeng, Bali. Nekara Pejeng berbentuk langsing bidang pukulnya yang menjorok keluar dari bagian bahunya. Bagian bahu berbentuk silinder atau lurus yang sama bentuknya pada bagian kaki. Nekara tipe Pejeng banyak ditemukan di wilayah Indonesia, seperti Pulau Jawa, Pulau Bali, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Frores Timur, dan Kabupaten Alor. Penemuan-penemuan nekara tipe Pejeng nampaknya tersebar dari wilayah Pulau Jawa sampai ke wilayah Indonesia bagian timur. Nekara tipe Heger ditemukan dari penggalian tidak sengaja atau penggalian secara sistematis oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Nekara tipe Heger tersebar di wilayah-wilayah Indonesia seperti, Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Lombok, Pulau Songeang, Pulau Sumbawa, Pulau Rote, Pulau Alor, Pulau Kalimantan, Pulau Selayar, Kepulauan Maluku, dan Papua.
Nekara yang ditemukan di pulau-pulau kecil Indonesia bagian timur dianggap sebagai pusaka desa. Masyarakat memberikan sesaji berupa makanan dan bunga di dekat nekara. Mereka juga menempatkan nekara di suatu tempat khusus, yang bahkan mengakibatkan rusaknya nekara itu. Bagi penduduk Pulau Sangeang nekara dipercaya dapat mendatangkan hujan dengan meletakkan nekara secara terbalik, yaitu bidang pukul berada di bawah. Posisi seperti inilah yang selalu didapati pada waktu nekara ditemukan dalam penggalian, baik oleh penduduk maupun peneliti.


