Kapak Perunggu

Kapak Perunggu

Secara tipologis kepak perunggu dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu kapak corong (kapak sepatu) dan kapak upacara. Kapak perunggu memiliki macam-macam bentuk dan ukuran.

Masyarakat Nusantara mengenal logam skitar 3000-200 SM, bertepatan dengan zaman perundagian. Pada zaman itu masyarakat nusantara membuat kapak yang terbuat dari perungu, atau yang lebih dikenal dengan Kapak Perunggu. Kapak perunggu memiliki macam-macam bentuk dan ukuran. Dilihat dari penggunaannya, maka kapak perunggu dapat berfungsi dua macam yaitu:

  1. Sebagai alat upacara atau benda pusaka
  2. Sebagai perkakas atau alat untuk bekerja

Keterangan pertama tentang kapak perunggu diberitakan Ramphius pada awal abad ke-18. Sejak sertengahan abah ke-19 mulai dilakukan pengumpulan dan pencatatan asal-usulnya oleh Koninklijk Bataviaasch Genootschap. Kemudian penelitian ditingkatkan ke arah tipologi dan uraian tentang distribusi dan konsep religious mulai dicoba berdsarkan bentuk dan pola hiasannya.

Secara tipologis kepak perunggu dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu kapak corong (kapak sepatu) dan kapak upacara. Kemudian Heekeren mengklasifikasikan kapak ini menjadi kapak corong, kapak upacara dan tembilang atau tajak. Pembagian ini diperluas lagi oleh Soejono dengan mengadakan penelitian lebih cermat tentang bentuk-bentuk kapak dan membagi kapak perunggu menjadi delapan tipe pokok dengan menentukan daerah persebarannya.

Tipe I atau tipe umum merupakan tipe dasar. Kapak jenis ini lebar dengan penampang lonjong, garis puncak (pangkal) tangkainya cekung atau kadang-kadang lurus, dan bagian tajaman cembung.

Tipe II atau tipe ekor burung seriti mempunyai bentuk tanggai dengan ujung yang membelah seperti ekor seriti. Ujung tajaman biasanya berbentuk cembung atau seperti kipas. Belahan pada ujung tangkai ada yang dalam, dan ada yang dangkal. Kapak-kapak tipe ini ada yang dihias, ada pula yang tidak memperlihatkan hiasan.

Tipe III atau tipe pahat memiliki tangkai yang pada umumnya lebih panjang daripada tajamannya. Bentuk tangkai ini ada yang menyempit dan lurus, ada yang pendek dan lebar. Bentuk tajaman cembuk atau lurus (datar).

Tipe IV atau tipe tembilang berbentuk seperti tembilang zaman sekarang; tangkai pendek, mata kapak gepeng, bagian bahu lurus kea rah sisi-sisinya. Mata kapak berbentuk trapesioda atau setengah lingkaran.

Tipe V atau tipe bulan sabit memiliki mata kapak berbentuk bulan sabit, bagian tengahnya lebar yang kemudian menyempit ke kedua sisi, serta sudut-sudut tajamannya membulat. Tangkai lebar di pangkal kemudian menyempit di bagian tajamannya.

Tipe VI atau tipe jantung memiliki mata kapak seperti jantung, tangkainya panjang dengan pangkal yang cekung, bagian bahu melengkung, pada ujungnya.

Tipe VII atau tipe candrasa bertangkai pendek dan melebar pada pangkalnya. Mata kapak tipis dengan kedua ujungnya melebar dan melengkung ke arah dalam. Pelebaran ini tidak sama sehingga membentuk bidang mata yang asimetris.

Tipe VIII atau tipe kapak Rote berbentuk khusus dan hanya ada tiga buah ditemukan di Rote. Tangkai kapak yang lengkung serta panjang dituang menjadi satu dengan kapaknya. Keseluruhannya gepeng dan berukuran panjang lebih kurang 90 cm. Puncak (pangkal) tangkai berbentuk cakram, tempat perletakan kapaknya. Cakram ini dihias dengan pola roda atau pusaran. Pola hias utama pada mata kapak adalah topeng dengan tutup kepala yang menyerupai kipas. Sebuah fragmen kapak perunggu yang memperlihatkan mata kapak berbentuk bulat dengan pola hias semacam pusaran yang disederhanakan mungkin sekali merupakan bagian dari jenis kapak upacara tipe kapak Rote ini.

Setelah ditemukannya peralatan dari logam, peran peralatan dari batu berangsur-angsur ditinggalkan. Beberapa peralatan logam yang ditemukan di Indonesia menunjukan persamaan dengan temuan-temuan di Dong Son (Vietnam), hal ini menunjukan bahwa telah terjadi hubungan baik antara wilayah kepulauan Indonesia dengan Daratan Asia Tenggara.