Gerabah

Gerabah

Gerabah adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat yang dibentuk kemudian dibakar untuk kemudian dijadikan alat-alat yang berguna membantu kehidupan. berdasarkan hasil penelitian, gerabah prasejarah diperkirakan sejaman dengan masa bercocok tanam. Gerabah sendiri dipergunakan sebagai peralatan rumah tangga.

Istilah gerabah biasanya untuk menunjukkan barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat. Selain dengan sebutan di atas, ada pula sebagian orang menyebutnya dengan tembikar dan sebagian lagi keramik lokal, untuk membedakannya dari istilah keramik asing.

Gerabah digunakan sebagai alat rumah tangga dan sebagai bagian mas kawin pada upacara pernikahan. Agar gerabah yang dibuat menarik, maka pembuat memberikan motif hias pada gerabah. Gerabah yang digunakan untuk kepentingan rumah tangga biasanya bermotif sederhana atau polos, sedangkan gerabah untuk kepentingan lain tentunya memerlukan motif yang lebih baik, sebagai contoh motif hias untuk gerabah pernikahan ditentukan oleh martabat pengantin, semakin tinggi martabatnya maka hiasan pada gerabahnya pun semakin banyak dan sulit.

Penemuan gerabah merupakan suatu bukti adanya kemampuan manusia dalam menciptakan teknologi pembuatan gerabah. Hal ini dikarenakan fungsi gerabah diantaranya sebagai tempat menyimpan makanan. Dalam perkembangan berikutnya gerabah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan, tetapi beraneka ragam, bahkan menjadi salah satu barang yang memiliki nilai tinggi.

Berdasarkan hasil penyelidikan arkeologi, membuktikan bahwa benda gerabah mulai di kenal pada masa bercocok tanam. Bukti-bukti tersebut berasal dari Kadenglebu (Banyuwangi), Kalapadua (Bogor), Serpong (Tangerang), Kalumpang dan Minanga Sepakka (Sulawesi), sekitar bekas danau Bandung, Timur Leste dan Poso (Minahasa). Dari temuan-temuan tersebut dapat kita simpulkan bahwa teknik pembuatan gerabah dari masa bercocok tanam masih sederhana. Segala sesuatunya dikerjakan dengan tangan, sedangkan penggunaan tatap batu dan roda pemutar pada umumnya dikenal masa perundagian tingkat permulaan, ini belum banyak bukti-buktinya kecuali beberapa temuan dari Tangerang dan di sekitar danau Bandung. Temuan yang berasal dari Tengerang dan sekitar danau Bandung  mendekati sebuah hipotesis masyarakat petani di Indonesia cendrung untuk menggabungkan teknik tatap batu dengan teknik tangan pada tingkat permulaan.

Penelitian terhadap situs Kadenglembu dilakukan oleh Heekeren pada tahun 1941 dan Soejono pada tahun 1969 menemukan sejumlah kereweng tidak berhias, di antaranya ada yang memperlihatkan warna merah yang dipoleskan pada permukaan luarnya. Bentuk gerabah yang ditemukan di Kedenglembu masih sederhana, karena sebagian besar temuan berupa fragmen tepian dan badan dari periuk yang pada umumnya bentuknya membulat. Dari data yang terkumpul, di ketahui bahwa bentuk periuk umumnya kebulat-bulatan dengan tepian melipat ke luar. Gerabah seperti itu dibuat oleh kelompok masyarakat petani yang selalu terikat dalam hubungan sosial-ekonomi dan kegiatan ritual.

Dari daerah Kalapadua, ditemukan gerabah yang lebih banyak daripada yang ditemukan di Kadenglembu. Dari hasil pengkajian ternyata gerabah yang ditemukan di Kalapadua lebih baik dalam pembuatannya, akan tetapi memiliki kekurangan dalam hal pembakaran, dimana pembakarannya kurang sempurna sehingga mengakibatkan gerabah yang ada di Klapadua tidak bisa bertahan lama. Gerabah ditemukan dalam keadaan rapuh dan mudah pecah. Hampir sebagian gerabah yang ditemukan di Klapadua telah terkikis sehingga mengakibatkan pola hias yang tidak bisa diketahui.

Gerabah yang ditemukan di Kalapadua berasal dari masa bercocok tanam. Hal ini diperkuat oleh beberapa temuan lain yang berkaitan dengan masa bercocok tanam, seperti; pecahan beliung, batu asahan, gelang dan alat-alat logam.

Gerabah dari Bandung umumnya tebal-tebal (antara 5-20 mm), dan berwarna merah. Tanda-tanda hiasan masih tampak, yaitu berupa goresan-goresan pola sisir dan pola tali, tetapi pada umumnya polos dipoles dengan warna merah pada permukaan luarnya. Dari fragmen-fragmen yang ditemukan dapat diperkirakan bentuk gerabah Dago Timur.

Peninggalan gerabah yang ditemukan di Sulawesi Tengah diperkirakan berasal dari masa bercocok tanam, karena ditemukan bersama unsur-unsur beliung dan kapak yang diupam. Situs penemun yang ada di Sulawesi Tenggara yaitu di daerah Minanga Sipakka yang terletak di pinggir Sungai Karama.