Cengkih, “Obat Panjang Usia” yang Digandrungi Orang Cina dan Mesopotamia

Cengkih (Poto Oleh: anneahira.com)

Syahdan, menurut cerita-cerita tutur yang beredar di Cina, pada abad ke-4 SM tersebutlah raja-raja Chhi, Wei, Hsuan, dan Yen berhasil mengirim orang-orang setempat ke luar negeri mereka untuk mencari pulau-pulau menakjubkan tempat ditemukannya “obat-obatan untuk memperpanjang  usia dan rahasia tentang hidup kekal”. Namun,  banyak di antara orang-orang kiriman itu tidak pernah kembali ke negeri mereka; sebagian malah dianggap tinggal di Jepang dengan damai, sebagian lagi mungkin tiba di benua yang kelak disebut Amerika. Namun, kemisteriusan akan orang-orang yang “hilang tersebut” justru menambah semangat bangsa Cina untuk terus melakukan perjalanan-perjalanan laut beresiko.

Seabad kemudian, abad ke-3 SM, seorang kaisar Dinasti Han di Cina memberlakukan peraturan ketat kepada para pejabat Kekaisaran: mereka harus mengulum cengkih dahulu sebelum menghadap Sang Kaisar. Rupanya, orang Cina akhirnya berhasil mendarat di tempat asal “obat panjang usia” yang tumbuh subur di Maluku. Memang, sejumlah sumber Cina sebelum abad ke-14 telah menulis Maluku sebagai asal cengkih dan catatan bertarikh 1350 memuat kabar bahwa jong Cina berlayar langsung ke daerah Maluku, akan tetapi cengkih sudah diimpor oleh bangsa Cina sejak abad ke-3 SM—jika memang utusan-utusan kaisar-kaisar Cina pada abad ke-4 SM gagal “menemukan” Kepulauan Maluku.

Sebelum pelaut Belanda langsung terlibat dalam perdagangan cengkih pada abad ke-16, semua cengkih di dunia hanya berasal dari lima pulau kecil di barat Halmahera: Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Bersama dengan komoditas lainnya seperti wewangian, kayu cendana, lidah buaya, lada dan pala, cula badak, kulit banteng, intan rotan, dan kelapa, cengkih menjadi primadona yang menarik para pedagang Eropa dan Cina. Saat itu, pengumpulan dan pengangkutan rempah Maluku ke belahan barat Nusantara ditangani orang Melayu, Jawa, dan Banda (yang terletak di selatan Maluku dan penghasil pala dan bunga pala). Para pedagang Maluku hanya mematahkan ranting pohon cengkih dan membawanya ke pelabuhan untuk dijual kepada pedagang yang kebetulan lewat. Orang Portugislah yang mengajar memisahkan cengkih dari daun dan ranting, mengeringkan, lalu mengarunginya; dan pembudidayaan baru ini dilakukan oleh penduduk Maluku sebagai penyesuaian dengan kebutuhan orang Eropa. Orang Belandalah yang kemudian, antara tahun 1652-1653, melakukan extirpatie alias pemusnahan semua pohon rempah Maluku agar bisa mengendalikan hasil dan menjaga harga tingginya di Eropa.

Selain oleh bangsa Cina di abad ke-3 SM (dan oleh bangsa-bangsa Eropa kelak di abad ke-16), cengkih telah lama digandrungi orang-orang Mesopotamia, setidaknya, sejak abad ke-17 SM! Hal ini terbukti oleh penemuan jambangan berisi cengkih di gudang dapur sebuah rumah sederhana di Terqa, Syria, salah satu wilayah peradaban Mesopotamia.  Saat penggalian dilakukan, arkeolog  Giorgio Buccellati begitu terkagum-kagum ketika menemukan sebuah wadah yang berisi benda seperti cengkih saat menggali rumah seorang pedagang yang berasal dari masa 1.700 SM di Terqa, Efrat Tengah. Awalnya sang arkeolog ini tidak percaya, namun setelah diteliti bersama seorang rekannya, ahli paleobotani (botani purbakala) bernama Kathleen Galvin, ia lantas yakin bahwa benda yang ia temukan memang cengkih. Yang menjadi pertanyaan: bagaimana jenis rempah yang hanya tumbuh di Maluku itu bisa mencapai daratan Mesopotamia pada abad ke-17 SM?

Hingga 500 tahun SM, orang-orang kaya di Yunani memelihara burung merak di kebun-kebun mereka, seiring dengan perdagangan antara Yunani, Romawi, dan India menjadi pesat. Dan jika kita membaca tulisan-tulisan Romawi Kuno, seperti catatan Pliny Si Tua (Pliny The Elder) yang hidup abad pertama Masehi, maka akan didapati isyarat bahwa ada sekelompok pelaut gagah berani dari Timur yang membawa pelbagai barang dagang eksotis termasuk kulit kayu manis yang disebut cassia.  Perlu dicatat, baik burung merak atau kulit kayu manis tersebut ditenggarai berasal dari Nusantara. Walau tidak bersangkut paut dengan cengkih, bisa kita bayangkan bahwa pengangkutan burung merak dan cassia itu dibarengi dengan pengangkutan rempah-rempah seperti cengkih. Akan tetapi, tetap saja keberadaan cengkih di  Mesopotamia 38 abad yang lalu masih merupakan misterius, mengingat tak ada cacatan mengenainya, selain menunjukkan bahwa para pelaut Maluku telah membelah samudra sepanjang ratusan mil ke “negeri para nabi” itu jika memang komoditas dagang tersebut dibawa oleh perahu-perahu Maluku dan tidak pernah dibawa oleh pelaut Mesopotamia langsung—kecuali orang Mesopotami mendapatkannya dari pelaut Afrika atau India yang membawa rempah-rempah dari Maluku, atau langsung dari Maluku atau perairan Nusantara lainnya.

Di Nusantara sendiri, dari dulu hingga kini “obat panjang usia” ini dimanfaatkan sebagai bumbu masak, minyak penghangat tubuh, serta perawatan gigi. Kini sebanyak 85% dari hampir 30.000 ton  cengkih Indonesia digunakan setiap tahun untuk industri rokok kretek. Dan jika sejak abad ke-17 kretek telah dihisap oleh orang Maluku, maka di waktu yang sama di Jawa kretek masih diisap dengan berbahan tembakau saja (tanpa cengkih). (Yusandi)

 

  

Tanggapi

*